Manajer Profesional vs Mantan Pejabat

February 19, 2026

Manajer Profesional vs Mantan Pejabat

Siapa yang Sebenarnya Dibutuhkan Koperasi Pegawai?

Ada satu pola yang jarang dibahas terbuka di koperasi pegawai. Ketika seorang pejabat di instansi induk memasuki masa pensiun, muncul anggapan yang terdengar masuk akal:

“Beliau sudah berpengalaman memimpin. Pasti mampu mengelola koperasi.”

Ia ditunjuk menjadi manajer koperasi.

Masalahnya bukan pada siapa orangnya. Masalahnya ada pada cara berpikir di balik keputusan tersebut.

Pelajaran pahit sering kali menjadi guru terbaik. Bagi banyak koperasi pegawai, periode lalu mungkin menjadi rapor merah: SHU menurun, tidak ada bisnis baru, bisnis yang ada jalan di tempat, freud (kecurangan & penyimpangan) yang dilakukan oknum pengurus dan karyawan koperasi berjalan terus,  dan keluhan anggota yang makin nyaring.

Salah satu biang keroknya? Kesalahan dalam memilih nakhoda operasional atau Manajer Koperasi.

Memilih mantan pejabat internal hanya karena faktor “senioritas” atau “biar gampang koordinasi” terbukti sering kali menjadi jebakan batman. Kenapa? Karena mengelola koperasi bukan soal mengelola birokrasi, tapi mengelola bisnis berbasis anggota.

Jabatan Tidak Sama dengan Kompetensi Manajerial

Koperasi pegawai adalah entitas usaha. Ia membutuhkan manajer yang memahami:

Bukan sekadar menjaga agar rutinitas berjalan.

Mengapa Pola “Mantan Pejabat Jadi Manajer” Sering Berujung Stagnasi?

Dalam banyak kasus, yang terjadi bukan transformasi, melainkan stabilisasi.

Beberapa gejala yang sering muncul:

Koperasi tetap berjalan. Namun tidak pernah naik kelas. Dan yang paling berbahaya: semuanya terlihat baik-baik saja.

Konflik Kepentingan yang Tidak Disadari

Di titik ini, profesionalisasi tidak pernah benar-benar terjadi.

Apa yang Dibutuhkan Koperasi Pegawai Sebenarnya?

Bukan manajer yang dihormati karena jabatan masa lalu. Tetapi manajer yang:

Koperasi tidak membutuhkan simbol kehormatan. Koperasi membutuhkan eksekutor strategi.

Saatnya Mengubah Mekanisme, Bukan Sekadar Orangnya

Isu ini bukan soal menyerang mantan pejabat. Banyak dari mereka adalah individu yang berintegritas dan berpengalaman.

Masalahnya adalah ketika jabatan masa lalu dijadikan satu-satunya alasan pengangkatan. Selama mekanisme rekrutmen tidak transparan dan berbasis kompetensi, hasilnya hampir selalu sama: stagnasi yang perlahan.

Jika koperasi pegawai ingin benar-benar “reborn”, profesionalisasi manajer bukan pilihan tambahan. Ia adalah fondasi. Manajer Profesional: Bukan Sekadar Opsi, Tapi Kebutuhan.

Penutup

Pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur:

Apakah manajer koperasi Anda dipilih karena kompetensinya? Atau karena kenyamanan dan kedekatan?

Jawaban atas pertanyaan ini sering kali menentukan apakah koperasi akan bertumbuh — atau hanya bertahan bahkan bangkrut.

Kesimpulan: Koperasi Itu entitas bisnis (Perusahaan), Bukan Yayasan Pensiun.

Pengurus baru punya beban moral untuk mengembalikan kepercayaan anggota. Koperasi yang sehat adalah koperasi yang SHU-nya tumbuh dan layanannya memuaskan. Jangan biarkan masa depan kesejahteraan anggota digadaikan hanya demi “menghormati” senioritas yang tidak punya kompetensi bisnis.

Saatnya pilih yang kompeten, bukan cuma yang dikenal.

Selamat bertugas manajer (baru), Anda pasti bisa menjalankan amanah tersebut dan mampu membahagiakan anggota.

Lebih rinci strategi dan langkah praktisnya dapat dibaca di e-book “Reborn Koperasi Pegawai” 7 Langkah Praktis Mengubah Koperasi Mati Suri Menjadi Mesin Kesejahteraan Anggota

Salam sukses,

-Nurul Ihsan-

Februari 2026